Kinerja Lingkungan Perusahaan
08.Oct.2007
Dua minggu yang lalu, sebuah survei global tentang CSR diumumkan hasilnya. Tidak menggembirakan. Perusahaan-perusahaan di Asia, termasuk
Namun, di antara kondisi yang secara umum belum menggembirakan itu, ada juga berita yang “menentramkan hati”. Harian Kompas menuliskan pada edisi 1 Oktobernya tentang bagaimana perusahaan Philips, termasuk yang beroperasi di
Prestasi yang ditorehkan Philips merupakan hasil kerja keras dalam jangka panjang. Ketika sebagian besar perusahaan di dunia belum lagi tersadar dari perilaku buruk mencemari lingkungan, Philips telah mengambil berbagai inisiatif untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon. Ini adalah inisiatif yang sangat maju karena hingga sekarang pun inisiatif mengurangi konsumsi energi terlebih lagi emisi karbon belumlah menjadi arus utama dalam pengelolaan lingkungan majoritas perusahaan. Sejak tahun 1970, Dewan Direksi Philips sudah merumuskan beberapa program yang berkaitan dengan lingkungan yang salah satu kegiatan langsungnya adalah berpartisipasi dalam Club of Rome.
Tahun 1994 mereka membuat program “The Environmental Opportunity”. Catatan penting di tahun 1995 adalah prestasi pabrik Philips Surabaya yang berhasil membuat produk yang tidak mengandung timbal. Karena itu, manajemen Philips dunia memberikan kesempatan kepada pabrik tersebut untuk memasok komponen, lampu pijar, dan neon, ke seluruh pasar Asia Pasifik. Tahun 1998, Philips berhasil mendapatkan penghargaan ”International Corporate Environmental Achievement” dan memperkenalkan program Ecovision yang pertama di dunia.
Fokus ke depan Philips, sebagaimana yang dicatat oleh Kompas, adalah menghasilkan produk lampu hemat energi. Alasan Philips, kesadaran masyarakat akan adanya peningkatan biaya dan pemanasan global kian kuat, sehingga kebutuhan lampu hemat energi ini meningkat 25 persen setiap tahun. Sebetulnya, dengan atau tanpa kesadaran akan dampak pemanasan global, secara logis konsumen akan lebih memilih lampu yang lebih hemat energi, karena dengan demikian mereka bisa berhemat tagihan listrik. Yang tidak disadari majoritas konsumen, menghemat listrik juga berarti menekan jumlah emisi karbon. Tentu saja, kesadaran masyarakat akan dampak pemanasan global akan membuat alasan untuk membeli lampu—dan produk-produk elektronik lainnya—yang hemat energi akan semakin menguat.
Dari kacamata Andrew Savitz dan Karl Weber yang menulis buku wajib baca ”The Triple Bottom Line: How Today’s Best-Run Companies are Achieving Economic, Social, and Environmental Success—and How You Can Too”—Philips telah menemukan “sustainability sweet spot”-nya. Atau, dalam istilah Daniel Esty dan Andrew Winston yang mengarang buku yang tak kalah bagus “Green to Gold: How Smart Companies Use Environmental Strategy to Innovate, Create Value and Build Competitive Advantage”, Philips telah berhasil memanfaatkan warna hijaunya untuk mendapatkan kilau emas.
Contoh-contoh keberhasilan masih harus terus dicari dan dipaparkan. Kerja keras masih harus terus dilakukan, mengingat prestasi majoritas perusahaan di
30 May 2009
kinerja lingkungan perusahaan
HSBC dan Tanggung Jawab Sosial
HSBC dan Tanggung Jawab Sosial
Sebagai bank internasional dan penyedia jasa keuangan terkemuka di dunia, HSBC selalu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjadi perusahaan yang sukses, dan oleh karenanya, menjunjung tinggi nilai-nilai etika serta standar praktek bisnis yang berlaku. Salah satu strategi utama kami adalah “menjadikan HSBC sebagai salah satu merek terkemuka dalam pelayanan nasabah dan tanggung jawab sosial perusahaan”. Tanggung jawab sosial perusahaan diartikan sebagai tanggung jawab HSBC kepada pemegang saham, nasabah dan karyawan untuk menjalankan bisnis yang beretika, berpedoman pada hukum, serta peduli dan penuh penghargaan terhadap individu, masyarakat dan lingkungan dimana HSBC beroperasi di seluruh dunia.
HSBC menerapkan praktek Keuangan yang bertanggung jawab (Responsible Finance)untuk menjamin bahwa pendekatan yang digunakan dalam pembiayaan dan investasi benar-benar mencerminkan nilai dan prinsip bisnis kami, kepekaan kami terhadap harapan masyarakat serta pengelolaan kami atas risiko. Kami menolak untuk terlibat dalam beberapa jenis bisnis, seperti pembiayaan untuk pembuatan dan penjualan senjata, menolak bertransaksi dengan negara-negara yang mendapat sanksi internasional, dan, sebagai anggota pendiri (Wolfsberg Group), kami menetapkan standar kebijakan untuk aktivitas anti pencucian uang (anti money laundering) dan pembiayaan kegiatan terorisme. Kami juga mendukung kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh Konvensi Wina dan
HSBC menganggap pelaksanaan tanggung jawab sosial merupakan hal yang sangat penting. Penerapannya meliputi kajian terperinci atas proposal kredit dan investasi, dukungan terhadap praktek dan pengembangan lingkungan hidup yang berkelanjutan, serta komitmen terhadap kesejahteraan dan pembangunan di lingkungan setempat. Risiko sosial, etika dan lingkungan hidup juga dipertimbangkan dalam kajian pemberian pinjaman serta proses persetujuan kredit. Kami juga mengadopsi Prinsip Khatulistiwa (Equator Principles), suatu pedoman bersifat sukarela yang memperhitungkan dampak sosial dan lingkungan dari pembiayaan suatu proyek, serta menempatkan kelestarian (sustainability) sebagai inti dari pembangunan ekonomi. Kami tidak akan membiayai suatu proyek jika pelaksana proyek tersebut tidak mau, atau tidak mampu, memenuhi salah satu di antara (Equator Principles) atau pedoman lingkungan hidup yang telah kami tetapkan dengan standar yang lebih tinggi. Untuk industri yang berpotensi akan berdampak negatif pada kondisi sosial, etika atau lingkungan, kredit hanya akan diberikan setelah dilakukan kajian tambahan dan terperinci terhadap dampak tersebut, untuk menjamin bahwa keterlibatan HSBC dalam transaksi tersebut telah memenuhi standar internal serta komitmen kami terhadap pelestarian alam (sustainability).
Kegiatan sosial HSBC di Indonesia
Program tanggung jawab sosial perusahaan HSBC di Indonesia, yaitu HSBC Kita, adalah bagian dari komitmen HSBC secara global bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Di samping dedikasinya yang tinggi terhadap tata kelola perusahaan yang baik, HSBC melalui HSBC Kita melaksanakan berbagai kegiatan sosial yang dapat dikelompokkan dalam 4 bidang, yaitu: Pendidikan, Lingkungan Hidup, Pembinaan Masyarakat dan Bantuan Bencana Alam. Melalui beragam kegiatan amal dan donasi, serta kegiatan sponsor dan keterlibatan langsung karyawan, HSBC Kita telah memberikan sumbangsih besar dalam proyek-proyek yang bertujuan untuk membantu dan mengembangkan bidang-bidang tersebut.
Karyawan HSBC dengan antusiasme tinggi berpartisipasi secara sukarela dalam program HSBC Kita melalui berbagai cara. Hal ini sekaligus merupakan cerminan dari kebijakan perusahaan untuk menarik, mengembangkan dan memotivasi sumber daya manusia yang berkualitas dan energik. Kami berkeyakinan bahwa kegiatan sosial kami akan memberikan hasil yang positif, baik bagi karyawan maupun bagi masyarakat, dan pada gilirannya akan memberi manfaat kepada perusahaan dan kegiatan operasional kami.
Dari Minyak ke Batubara
Dari Minyak ke Batubara
05.Nov.2007
Jeroen van der Veer, sang CEO Shell, pernah menyatakan kepada BBC bahwa “we are not responsible for deciding the energy mix of the world.” Benarkah demikian? Tampaknya tidak. Setiap individu memiliki kemampuan untuk ikut menentukan bauran energi dunia. Apalagi perusahaan minyak raksasa macam Shell. Tanggung jawab untuk menentukan bauran energi dunia, juga nasional, benar-benar sangat penting untuk disadari sekarang, manakala dunia menghadapi ancaman bencana lingkungan yang sangat besar: pemanasan global. Dan, untuk memastikan bahwa proporsi karbon di atmosfer tetap berada di bawah 450 ppm—proporsi yang dianggap ”aman” bagi dunia—bauran energi adalah salah satu penentunya.
Sayangnya, ada kendala yang sangat besar untuk memastikan itu. Harga minyak dunia yang melambung mendekati USD 100 benar-benar membuat perusahaan minyak mendapatkan keuntungan besar, dan ini berarti insentif untuk terus melakukan eksplorasi dan eksploitasi. Kalau kondisinya ini terus dimaknai demikian oleh perusahaan minyak, agak sulit bagi dunia untuk berharap bauran energi menjadi kurang bergantung pada bahan bakar fosil itu. Padahal, penggunaan bahan bakar fosil itulah yang bertanggung jawab sangat besar terhadap naiknya proporsi karbon di atmosfer.
Di sisi lain, naiknya harga minyak tentu membuat reaksi pasar yang menjauhi minyak. Alternatif bahan bakar pun dicari. Sayangnya, pilihan itu terutama tidak dijatuhkan kepada jenis-jenis sumber energi yang ramah lingkungan. Murahnya batubara telah memikat banyak perusahaan untuk segera beralih ke
Hitung-hitungan ekonomi dari konversi energi ini sangat jelas. Batubara di minggu yang lalu dilaporkan dijual pada kisaran harga USD 75/ton, sementara minyak sempat nangkring di USD 96/barel. Padahal, energi yang dihasilkan oleh satu ton batubara kira-kira sama dengan 4,8 barel. Artinya, kalau dihitung dari harga di atas, biaya energi dari minyak memang 6,14 kali lipat batubara. Hitung-hitungan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dalam laporan terbaru mereka ”The Future of Coal” memang menyatakan bahwa batubara akan berharga antara USD 1-2/MMBtu, sementara minyak dan gas berharga USD 6-12/MMBtu. Ini berarti rentang perbandingan harga energi migas dan batubara adalah antara 6-12 kali lipat.
Tapi apakah hanya hitungan ekonomi saja yang akan dipakai? Kebijakan Energi Nasional juga mendorong penggunaan batubara yang lebih besar hingga setidaknya tahun 2025. Yang tampaknya kerap dilupakan adalah bahwa batubara punya dampak lingkungan yang jauh lebih besar dibandingkan minyak. Eksplorasi dan eksploitasi migas menggunakan ruang yang jauh lebih kecil dibandingkan batubara, yang selalu mengubah bentang alam dalam skala raksasa. Selain emisi karbon, batubara juga membuang sulfur oksida, nitrogen oksida, dan partikulat ke atmosfer. Dampak lingkungan yang jauh lebih besar ini, sebetulnya tidak membuat batubara lebih murah dibandingkan migas, namun masih kerap dianggap sebagai eksternalitas belaka.
Bagaimanapun, batubara akan terus dipergunakan dalam beberapa dekade ke depan. Kecenderungannyapun sudah pasti: akan terus meningkat dengan kecepatan relatif tinggi. Masalahnya adalah, bagaimana meminimumkan berbagai dampak negatif itu. Tentang meminimumkan emisi karbon dari batubara, studi MIT yang dikutip di atas dengan tegas menyebutkan bahwa hanya dengan teknologi ”carbon capture and sequestration” (CCS) sajalah emisi itu bisa ditekan. Teknologi ini memungkinkan batubara tetap melayani kebutuhan masyarakat atas energi dengan dampak negatif yang minimum. Sayangnya, hingga sekarang belum terdapat projek CCS yang paripurna. Untuk itu, pemerintah harus mau berinvestasi dalam kebijakan dan sumberdaya finansial agar teknologi itu benar-benar bisa terwujud dalam skala yang memadai untuk menangani seluruh dampak negatif itu.
Pun demikian dengan sektor swasta. Pengakuan bahwa mereka beralih ke sumber energi yang lebih kotor harus secara jujur dikemukakan. Penghematan yang bisa mereka lakukan karena konversi energi itu seharusnya membuat mereka mau berinvestasi dalam menekan dampak negatif penggunaan batubara terhadap lingkungan dan masyarakat. Membantu pemerintah dalam riset CCS dan atau membiayai riset teknologi yang lain (termasuk sumber energi ramah lingkungan), melaksanakan pengelolaan lingkungan dengan teknologi terbaik yang telah tersedia, serta membayar kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak melalui berbagai program lingkungan dan pengembangan masyarakat adalah langkah-langkah bijak yang perlu dilakukan. Hanya dengan cara demikianlah perusahaan yang melakukan konversi ke batubara bisa dianggap melakukan CSR dengan benar.
CSR
Corporate Social Responsibility (CSR)
![]()
Sebagai bentuk komitmen Indosat dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, Indosat telah melaksanakan berbagai progam yang kami harapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat
Corporate Social Responsibility yang kami lakukan tidak terbatas hanya pada pengembangan dan peningkatan kualitas masyarakat pada umumnya, namun juga menyangkut tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Kepedulian terhadap pelanggan, pengembangan Sumber Daya Manusia, mengembangkan Green Environment serta memberikan dukungan dalam pengembangan komunitas dan lingkungan sosial. Setiap fungsi yang ada, saling melengkapi demi tercapainya CSR yang mampu memenuhi tujuan Indosat dalam menerapkan ISO 26000 di perusahaan.
Penerapan CSR Indosat mencakup 5 inisiatif, yang dilakukan secara berkesinambungan yaitu:
Organizational Governance
Penerapan tata kelola Perusahaan terbaik termasuk mematuhi regulasi dan ketentuan yang berlaku, berlandaskan 5 prinsip: transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, interpendensi dan kesetaraan.
Consumer Issues
Menyediakan dan mengembangkan produk dan jasa telekomunikasi yang memberikan manfaat luas bagi pemakainya, layanan yang transparan dan terpercaya.
Labor Practices
Mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan antara Perusahaan dan karyawan serta pengembangan sistem, organisasi dan fasilitas pendukung sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi Perusahaan.
Environment
Mengembangkan budaya Peduli lingkungan termasuk upaya-upaya nyata untuk mengurangi penggunaan emisi karbon dalam kegiatan perusahaan.
Community Involvement
Ikut mengembangkan kualitas hidup komunitas dalam hal kualitas pendidikan sekolah dan olahraga, kualitas kesehatan, serta ikut serta dalam mendukung kegiatan sosial komunitas termasuk bantuan saat bencana/musibah.
CSR Goal Indosat
Bertumbuh, mematuhi ketentuan dan regulasi yang berlaku serta Peduli kepada masyarakat.
Progam CSR di tahun 2008 hingga saat ini memiliki tema khusus, yaitu “Indosat Cinta
Dan merefleksikan komitmen dan tanggungjawab Indosat sebagai Perusahaan di Indonesia dan Peduli atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Hal ini juga mendemonstrasikan upaya kami untuk mengajak setiap insan
Program Indosat Cinta

Program yang telah dilakukan akan terus berjalan dan ditingkatkan kualitasnya. Seluruh program CSR yang dilaksanakan oleh Indosat akan terus dievaluasi secara berkala agar betul-betul dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan Bangsa
Betapapun besarnya masalah yang dihadapi dunia pendidikan, kesehatan, lingkungan serta permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia pada umumnya, maka setiap langkah nyata yang dilakukan oleh Indosat merupakan tahapan yang berarti untuk menuju masa depan yang lebih baik.